KESEHATAN MENTAL GENERASI Z DI ERA PANDEMI


Di masa pandemi ini topik yang paling sering kita baca, dengar, dan lihat pasti bagaimana untuk selalu menjaga kesehatan masing masing pribadi manusia. Mulai dengan menjaga imunitas tubuh, menggunakan masker, kebersihan tangan yang harus dijaga setiap saat, jaga jarak saat berada di tempat umum. Itulah himbauan untuk meminimalisir penyebaran virus covid-19, menjaga kesehatan fisik itu yang terus di gaungkan oleh seluruh elemen masyarakat hingga lupa akan satu hal yang sangat penting juga untuk dijaga kesehatannya yaitu mental, tanpa mempunyai mental yang sehat bagaimana kita bisa menjaga kesehatan fisik. Mental secara fundamental adalah bagian yang penting dalam setiap pribadi manusia kesehatan mental dibutuhkan agar manusia bisa melakukan aktifitas sehari hari dengan normal tanpa rasa takut, bersalah, maupun tertekan. Bicara mengenai generasi Z yang lahir di antara tahun 1995 hingga 2012 bisa dikatakan di tahun di 2020 ini usia mereka masih terbilang muda. Walaupun mereka lahir di zaman yang sudah lebih maju tidak bisa dibilang mental mereka juga maju alias bisa menerima sema hal baru. WHO menyebutkan, anak muda lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu dimana banyak perubahan dan penyesuaian baik sacar psikologis, emosional, maupun finansial.

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada dan telah dirilis oleh kementerian kesehatan RI penderita gangguan kesehatan mental semakin meningkat. Peningkatan terjadi secara signifikan mulai dari tahun 2013 hingga tahun 2018. Pada tahun 2013 penderita penyakit kesehatan mental yang dialami oleh generasi Z yaitu sebesar 1.7 %. Sedangkan pada tahun 2018 semakin meningkat dengan jumlah penderita sebesar 7 %. Rata-rata data prevalensi yang menunjukkan gangguan mental tejadi pada usia remaja sekitar 15 tahun ke atas. Terlihat dari data tersebut mengalami peningkatan hampir 6 % dari jumlah penduduk seluruh Indonesia atau bisa dikatakan sekitar 14 juta orang. Tidak hanya gangguan kesehatan ringan saja, tetapi juga terdapat gangguan kesehatan yang berat dimana mengidap penyakit skizofrenia sekitar 1.7 per 1000 penduduk atau bisa saja sekitar 400.000 orang penderita. Berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa setiap detik yang telah terjadi ada sekitar 1 hingga 2 orang yang memilih untuk melakukan bunuh diri di seluruh dunia yang terjadi pada usia 15 hingga 29 tahun yang disebabkan oleh depresi.

Mengenai masalah di era pandemi, mulai yang harus sekolah secara daring, kuliah secara daring, tempat hiburan banyak ditutup, harus mengahabiskan lebih banyak waktu dirumah saja, hingga kurang nya komunikasi terhadap sesama teman karena diberlakukannya kebijakan social distancing yang mengharuskan anak-anak muda ini menahan diri dulu untuk sekedar menikmati kopi dan bercengkrama dengan teman teman mereka seperti saat normal dulu. Manusia adalah makhluk sosial yang artinya manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, salah satu contohnya adalah komunikasi, anak muda jaman sekarang lebih suka mencurahkan isi hatinya kepada teman sendiri daripada ke orang tua atau saudara mereka, saat kebijakan social distancing diberlakukan mereka semua mau tidak mau harus mengurangi bahkan tidak bisa berkomunikasi secara tatap muka dengan teman mereka dan itu pasti menimbulkan rasa stress yang bisa mengancam kesehatan mental anak anak muda ini.

Yang mmpengaruhi masalah mental selanjutnya adalah munculnya stigma negatif dari masyarakat kepada mereka generasi yang terkena dampak ini, seperti munculnya komentar mengenai lulus jalur giveaway, enak sekali tanpa mengikuti ujian nasional bisa lulus, di cap sebagai generasi yang akan gagal, dll. Munculnya komentar negatif di masyarakat ini menimbulkan masalah baru bagi mental anak muda khususnya generasi Z ini. Seharusnya masyarakat mendukung generasi muda ini sebagai penerus bangsa selanjutnya. Tetapi yang ada malah menimbulkan masalah baru. Generasi Z merasa bahwa masa pandemi ini beban untuk mereka karena komentar yang dilemparkan oleh tidak sedikit masyarakat kepada generasi Z ini, setelah komunikasi yang jarang dan jarak yang membuat mereka stress, sekarang ada beban lagi yang mereka dapat yaitu di cap sebagai generasi giveaway, generasi yang gagal dll. Sebenarnya generasi Z tidak melakukan kesalahan apapun yang membuat munculnya virus covid-19 tetapi mengapa generasi ini mendapat tidak sedikit sigma buruk dalam masyarakat.

Cara yang bisa generasi Z ini lakukan untuk terhindar dari masalah mental adalah dengan tetap mengusahakan adanya interaksi sosial, yang biasanya hanya terbuka kepada temannya yuk sekarang mulai mencoba terbuka kepada orang tua atau saudara terdekat karena mereka yang saat ini berada satu rumah dengan mu dan yang paling mungkin untuk diajak berinteraksi secara tatap muka. Untuk orang tua juga bisa mendampingi anaknya, karena diberlakukannya WFH (Work Form Home) bekerja dari rumah yang berarti waktu jauh lebih banyak yang bisa dihabiskan dirumah, usahakan beri waktu yang lebih ke anak agar anak merasa dekat dan mau terbuka terhadap masalah dan beban yang anak hadapi. Generasi Z juga wajib berwawasan luas nih jangan mudah terpancing profokasi komentar masyarakat, buktikan omongan mereka dengan prestasimu. Terlebih untuk masyarakat juga tolonglah jangan menimbulkan stigma negatif, kita semua sudah sama sama susah di era pandemi ini, yuk kita berkolabrasi saling membantu dalam menghadapi masa pandemi ini.

Kalian generasi Z harus tetap semangat, kalian kuat saat ditempa berbagai masalah yang datang ke diri kalian. Kalian generasi Z adalah generasi yang istimewa. Untuk mahasiswa baru, kita lah angkatan pertama di masa pandemi ini. Ingat satu hal yang harus kalian pejari untuk generasi Z yaitu kemampuan beradaptasi. “Survival Of The Fittest” sebuah kutipan yang dikemukakan oleh charles darwin seorang ahli teori evolusi, “fittest” berarti mampu beradaptasi dengan lingkungan. Kunci survive itu bukanlah yang paling kuat atau pintar tetapi yang paling adapif terhadap lingkungan.

                                                            

                                                                    ðŸ‘¦ðŸ‘¨ðŸ‘©ðŸ‘§


Komentar

  1. Kok keceee.. bagi literasi dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Literasinya lewat internet aja bro, gak bisa pinjem pinjem buku

      Hapus
  2. isinya keren, teliti lagi banyak huruf yang kurang itu wkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Self Love, Mencintai Diri Sendiri Bukanlah Hal Kecil